Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) Muhammad Bobby Afif Nasution menyebut kisah Muhammad Risky Pratama, siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 2 Medan yang diundang Presiden Prabowo Subianto ke Sidang Tahunan MPR, DPR, dan DPD RI, menjadi bukti nyata manfaat Program Sekolah Rakyat dalam memutus mata rantai kemiskinan.
Risky, 12 tahun, diperkenalkan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto dalam pidato kenegaraan di Gedung DPR RI, Jakarta, Jumat (14/8/2026).
Anak yang tinggal bersama nenek dan adiknya di Labuhan Deli, Kabupaten Deli Serdang itu sebelumnya sempat putus sekolah dan membantu perekonomian keluarga dengan berjualan ikan menggunakan sepeda sejak usia sembilan tahun.
Setiap hari, Risky mengayuh sepeda puluhan kilometer sambil membawa sekitar 30 kilogram ikan untuk dijajakan.
Kini, melalui Program Sekolah Rakyat yang dibiayai negara, ia mendapatkan akses pendidikan, tinggal di asrama, dan bercita-cita menjadi prajurit TNI.
Menanggapi hal tersebut, Bobby Nasution mengatakan program yang digagas Presiden Prabowo telah dirasakan masyarakat, termasuk di Sumatera Utara.
“Program yang disampaikan Presiden hari ini sudah dirasakan masyarakat Indonesia, termasuk yang ada di Sumatera Utara. Dan Risky hanya salah satu penerima manfaat, masih banyak lagi anak-anak yang merasakan manfaat program ini,” kata Bobby kepada wartawan.
Bobby menyampaikan apresiasi kepada Presiden Prabowo atas hadirnya Program Sekolah Rakyat yang menurutnya memberikan harapan baru bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem.
“Terima kasih kepada Presiden. Program-program yang dibuat hari ini sudah mulai terasa manfaatnya di Sumatera Utara dan mudah-mudahan dampaknya semakin besar ke depan,” ujarnya.
Menurut Bobby, tujuan utama Program Sekolah Rakyat adalah memutus rantai kemiskinan antargenerasi melalui akses pendidikan yang layak bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
“Seperti yang disampaikan Presiden, jangan sampai kakeknya miskin, bapaknya miskin, lalu anaknya juga miskin. Program ini hadir untuk memutus mata rantai kemiskinan itu,” katanya.
Bobby menilai masih banyak anak yang menghadapi keterbatasan akses pendidikan karena faktor ekonomi maupun jarak sekolah yang jauh dari tempat tinggal. Karena itu, kehadiran Sekolah Rakyat menjadi solusi untuk memastikan anak-anak tetap memperoleh pendidikan yang layak.
“Program ini dibuat untuk membantu anak-anak yang keluarganya masuk kategori miskin dan miskin ekstrem. Pemerintah Provinsi Sumut sangat mendukung dan berharap semakin banyak anak yang bisa menerima manfaatnya,” ujar Bobby.
Ia berharap keberadaan Sekolah Rakyat dapat membuka peluang yang lebih luas bagi generasi muda Sumut untuk meraih masa depan yang lebih baik melalui pendidikan. (HS)











