Pendidikan Kristen bukan sekadar transfer ilmu pengetahuan (transfer of knowledge), melainkan sebuah upaya transformatif untuk memulihkan gambar Allah (Imago Dei) dalam diri setiap peserta didik.
Namun, dalam praktiknya, seringkali penegakan disiplin di lingkungan sekolah Kristen masih terjebak pada penggunaan kekerasan fisik maupun verbal. Padahal, memaksakan kehendak melalui luka hanya akan menjauhkan siswa dari kasih Kristus yang menjadi fondasi utama pendidikan itu sendiri.
Memandang Siswa sebagai Imago Dei
Landasan utama pendidikan Kristen yang anti-kekerasan adalah pengakuan bahwa setiap anak diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kejadian 1:26-27). Ketika seorang pendidik melakukan kekerasan verbal atau fisik, ia secara tidak langsung sedang merendahkan martabat ciptaan Tuhan. Perspektif ini sejalan dengan pandangan humanisme religius yang menekankan bahwa pendidikan harus memanusiakan manusia.
Dalam sebuah studi pada Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen, ditekankan bahwa guru Kristen seharusnya bertindak sebagai gembala yang membimbing dengan kasih, bukan penguasa yang memerintah dengan tangan besi. Disiplin dalam Alkitab bersifat mendidik, seperti yang tertulis dalam Amsal 15:1, “Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah.” Ayat ini secara eksplisit melarang kekerasan verbal (perkataan pedas) dalam menghadapi konflik.
Pedagogi Kasih: Melampaui Hukuman Fisik
Menggunakan cara-cara fisik untuk mengubah perilaku siswa adalah bentuk kegagalan dalam memahami hakikat pertumbuhan rohani. Perubahan yang dipaksakan dari luar tidak akan menghasilkan buah pertobatan yang sejati. Pendidikan Kristen harus mengedepankan “Pedagogi Kasih,” di mana perubahan perilaku lahir dari kesadaran akan kasih Allah, bukan karena takut akan cambuk atau makian.
Menurut penelitian dalam Jurnal Pendidikan Agama Kristen (Regula Fidei), pola pendisiplinan yang otoriter dan disertai kekerasan justru menciptakan jarak emosional antara guru dan siswa, yang menghambat proses internalisasi nilai-nilai Kristiani (Siahaan, 2019). Sebagai gantinya, pendidik harus meneladani Kristus yang mengajar dengan otoritas yang penuh kasih, bukan ancaman. Kristus dalam Matius 11:29 mengundang kita untuk belajar dari-Nya karena Ia “lemah lembut dan rendah hati.”
Membangun Ekosistem Damai Sejahtera
Tujuan akhir dari pendidikan Kristen adalah terciptanya Shalom atau damai sejahtera di lingkungan sekolah. Ekosistem ini hanya bisa dibangun jika sekolah berkomitmen menolak segala bentuk kekerasan verbal seperti penghinaan atau pelabelan dan kekerasan fisik.
Strategi yang dapat diambil adalah:
1.Restorative Justice: Menyelesaikan pelanggaran siswa melalui dialog pemulihan hubungan, bukan sekadar pemberian sanksi fisik.
2.Perkataan yang Membangun: Mengacu pada Efesus 4:29, pendidik harus memastikan tidak ada perkataan kotor (atau kasar) yang keluar dari mulutnya, melainkan hanya kata-kata yang baik untuk membangun.
3.Keteladanan Guru: Guru bukan hanya pengajar subjek akademik, tetapi saksi hidup dari kesabaran Allah.
Kesimpulan Menanam benih kata yang membangun jauh lebih sulit daripada memberikan luka fisik, namun hasilnya adalah kehidupan yang bertumbuh dalam kebenaran.
Pendidikan Kristen yang anti-kekerasan adalah cerminan dari Kerajaan Allah di bumi. Dengan menghapus koersi dan mengedepankan dialog humanis yang berlandaskan kasih Kristus, kita sedang membangun generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kelembutan hati untuk mengubah dunia tanpa kekerasan. (RS)
Oleh: Dr Thomson Siallagan MPd KMTh (Dosen STT Baptis Medan)











